Ikuti  joehoogi.cf  di:

Mengorek-Orek Mencari Kesalahan Jokowi


Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan ikhlaskan aneka pemicu kegaduhan yang acap para oposan tabuh-tabuhkan seperti genderang mau berperang hingga sampai nilai-nilai kebangsaan mlayu terbirit-birit dan kadang meneng-meneng  sambil terkencing-kencing di celana lantas sesama para anak bangsa tahu-tahu terbelah menjadi dua sisi kutub fauna, Kecebong dan Kampret. Lagi-lagi makhluk hidup made in Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa sebab dan akibat yang jelas mendadak menjadi makhluk yang terhinakan oleh mereka yang konon mengaku pembela Allah Subhanahu wa Ta'alaSejak awal saya menolak memakai idiom sebutan Kecebong dan Kampret. Mendingan saya mengganti idiom sebutan Kecebong dengan idiom sebutan Pro Jokowi. Sedangkan untuk mengganti idiom sebutan Kampret dengan idiom sebutan Kontra Jokowi.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowisesumbar kegaduhan telah silih berganti para oposan mainkan sesuai kehendak selera tema berita yang dapat untuk dipergaduhkan. Berbagai methode kebringasan para oposan halalkan agar dari aneka  peristiwa biasa dapat para oposan plintar-plintir sesuka-suka hati para oposan agar peristiwa yang hanya biasa itu dapat membuahkan cita rasa keluarbiasaannya menjadi kegaduhan nasional sebagai target harapan para oposan. Pokoknya serba tepuk jidat tak habis pikir jika kita orang-orang waras tahu duduk pokok perkaranya yang para oposan olah masak menjadi hidangan yang lezat sebelum menjadi pokok sebuah perkara. 

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan tiada pernah bosan-bosannya bermain memantik api kegaduhan demi kegaduhan. Terus terang kuping orang-orang waras akan menjadi pekak kopokan sebab betapa tidak pekak kopokan jika di sana-sini masih senantiasa terdengar para anak bangsa mempertaruhkan asma Allah hanya demi ujaran kebencian sesama anak bangsanya sendiri.  Kok bisa-bisanya para oposan ngutruk tidak karuan sembari terus tebarkan  pisuhan di sana-sini tapi cangkem para oposan masih tega mengumbar  takbir dengan alasan dakwah. Tapi ketika Rule of Law  bertindak sesuai protap yang menjadi tugasnya, mendadak para oposan bengak-bengok ke ummah kalau Rule of Law telah melakukan tindakan kriminalisasi.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan kibarkan Tagar 2019 Ganti Presiden (terus terang tagar ini terasa aneh di kuping saya sebab mengapa bukan Tagar 2019 Ganti Jokowi? Bukankah makna Ganti Presiden memiliki denotasi multi tafsir yang bisa diartikan Ganti sistem Republik). Para oposan  terapkan standard ganda, di satu sisi para oposan labrak habis-habisan Demokrasi sebagai Thogut, lantas para oposan support sistem Khilafah. Tapi ketika Negara via Perpu demi konsensus setengah abad ber-Pancasila  membubarkan Hizbut Tahrir yang bercita-cita ingin menegakkan sistem  Khilafah, lantas di sisi yang lain para oposan  tebarkan aksi penolakan Perpu di mana-mana dengan bersembunyi di balik ketiak Demokrasi  bernama kebebasan berpendapat dan berekspresi yang konon dulu para oposan anggap sebagai Thogut.  Para oposan tebarkan hasutan kebencian dan fitnah kepada Negara di bawah pemerintahan Jokowi yang para oposan anggap anti Islam. Padahal realitasnya sampai hari ini semua negara Islam tanpa terkecuali telah menolak Hizbut Tahrir dengan konsep  Khilafahnya.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan telah menjadi manusia-manusia tidak sabaran, gampang nesu mencucu lan kesusuan dalam jagad sejarah ulah anak manusia di dunia. Oleh akibat para oposan tidak  sabaran, gampang nesu mencucu lan kesusuan sampai-sampai issue fitnah murahan para oposan tebarkan menjadi ranjau hoax di sana-sini dengan harapan agar rakyat mudah menginjak jebakan ranjau hoax para oposan dengan membenci Presidennya sendiri hingga semoga rakyat bisa tersulut  amuknya menjadi goro-goro atau  ontran-ontran atau geger berskala  Nasional seperti Peristiwa Huru-Hara 1998. Tapi lagi-lagi realitasnya jebakan ranjau para oposan ternyata mudah ditebak oleh rakyat terbukti Jokowi masih tebar pesona telah dicintai oleh rakyatnya, terbukti jajak pendapat yang terus digalakkan oleh lembaga-lembaga survey yang netral berulangkali telah menunjukkan kepada kita yang melek betapa prosentase suara untuk Jokowi tetap saja berada di urutan grafik paling atas

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan seharusnya sudah berputus asa sebab issue-issue murahan hasil olah masakan para oposan ternyata tidak memberikan efek yang berarti bagi rakyat, dan seharusnya para oposan bisa waras menyadari betapa teror issue-issue murahan hasil olah masakan yang para oposan tebarkan seperti issue Jokowi yang tunduk pada Asing dan Aseng, issue Jokowi yang keturunan PKI, issue Jokowi yang anti Islam, issue semangat Tagar 2019 Ganti Presiden dan bla-bla-bla-bla ternyata tidak bisa menjadi opsi mujarab para oposan untuk melengserkan Jokowi kecuali opsi para oposan malah menjadi bumerang senjata makan tuan yang mencoba berkeinginan bertindak makar. 

Suka tidak suka kita harus sportif betapa Jokowi terpilih secara konstitusional melalui Pemilihan Umum dengan melibatkan langsung suara mayoritas rakyat yang memilihnya. Apalagi vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, para oposan tiada pernah jemu-jemunya memainkan teror issue fitnah murahan kembali. Kali ini para oposan sulut sumbu idealisme mahasiswa di kampus-kampus untuk turun ke jalan teriakkan yel-yel Turunkan Jokowi. Issue melemahnya Rupiah atas Dollar telah kalian olah masak dengan aneka bumbu penyedap rasa menjadi adonan yang mujarab dengan harapan dapat melengserkan Jokowi di tengah jalan.  Mungkin di pikiran para oposanopsi issue menguatnya Dollar terhadap Rupiah dapat para oposan jadikan proses awal yang menguntungkan ambisi kekuasaan para oposan dengan mengacu ke studi kasus Krismon 1998 yang dapat melengserkan Suharto. Dalil gotak gatik gatuk para oposan pasti berujar demikian, bayangkan betapa sejarah telah mencatat sehebat-hebatnya orang nomor satu di Orde Baru yang berkuasa secara tirani selama 32 tahun pada akhirnya bisa rontok juga seperti bunga Flamboyan dari singgasana akibat krisis moneter. Kalau Suharto bisa rontok seperti bunga Flamboyan, mengapa sekelas Jokowi tidak bisa? Begitu pertanyaan sok keminter yang para oposan viralkan dengan harapan agar akhir kekuasaan Suharto bisa berujung senasib sepenanggungan dengan Jokowi. 

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, Dollar yang merangkak besit 600% dari Rupiah di era Krismon 1998 lantas bisa-bisanya para oposan samakan dengan kondisi Dollar  sekarang yang hanya merangkak 16%? Bagaimana para oposan bisa menyamakan Suharto yang berkuasa 32 tahun yang melulu dipilih melalui ketetapan MPR tanpa melibatkan vox populi vox dei telah para oposan samakan dengan Jokowi yang terbukti terpilih secara langsung oleh mayoritas suara rakyatnya? Suharto selama karir aji mumpung kekuasaannya membangun ratusan jaringan perusahaan kerajaan bisnis monopoli anak-anaknya, sedangkan Jokowi tidak melibatkan anak-anaknya kecuali anak-anaknya berswasembada merogoh kocek sendiri untuk jualan martabak dan kue pisang goreng.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan Asalkan Bukan Jokowi, pada akhirnya membuat saya capek untuk membahasnya lagi sebab sampai Tahun Kuda tak akan pernah ada habisnya. Jadi percuma menuruti kemauan hawa nafsu bernama ambisi kekuasaan hingga para oposan harus ngelakoni kayak wong kentir mengorek-orek sampai mengais-ngais ke setiap bak sampah siapa tahu para oposan bisa menemukan kesalahan JokowiKalau memang Jokowi dirasa kebak kesalahan oleh kubu Kontra Jokowi, maka tak usah kawatir sebab pasti rakyat mayoritas tidak akan memilihnya kembali. Terpilih atau tidaknya Jokowi nanti dapat dibuktikan nanti melalui pertarungan secara fair dalam kancah media konstitusi Pemilu yang sehat. Kalah atau menangnya Jokowi wajib legowo dan sportif. Jadi stop tak perlu lagi para oposan mengorek-orek hingga sampai mengais-ngais ke setiap bak sampah mencari kesalahan Jokowi.  Wallahu a'lam bish-shawabi.


Salam,
Joe Hoo Gi



Mau komentar? Klik di sini!



loading...

Baca Artikel Lainnya :

Memuat...
loading...

Comments