English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Ikuti  joehoogi.cf  di:

Ikuti blog saya  RSS  Facebook  Twitter  GooglePlus  LinkedIn  Instagram  Pinterest  Flickr  YouTube  Vidio  SoundCloud  ReverbNation  Vimeo  Tumblr  GoodReads 

Bambu, Etika dan Asian Games


Ketika warganet (netizen) protes perihal tiang bendera Negara Asian Games yang terbuat dari potongan bambu berkualitas rendah terpampang secara terbuka di jalan-jalan ibu kota, lantas Saudara Anies selaku Gubernur DKI Jakarta memberikan statement jawaban:" Jangan sekali anggap rendah tiang bendera dari bambu. Itulah tiang yang ada di rumah-rumah rakyat kebanyakan. Penjualnya rakyat kecil. Perajinnya pengusaha kecil. Penanamnya ada di desa-desa. Biarkan hasil panen rakyat kecil, hasil dagangan rakyat kecil ikut mewarnai ibu kota. Jangan hanya gunakan tiang bendera buatan pabrik yang ukuran kekayaannya sudah raksasa." Selanjutnya berita yang berkaitan statement Saudara Anies ini dapat diklik di sini.

Statement Saudara Anies ini akan terasa pas dan tidak lebay jika statementnya ini disampaikan oleh sang penyair Umbu Landu Paranggi yang hingga akhir hayatnya telah terbukti idealis menolak segala atribut keduniawian yang menyangkut harta, tahta dan wanita. Bahkan untuk makan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja Umbu Landu Paranggi harus maraton puasa. Tapi bila statement Saudara Anies ini justru keluar dari mulut Saudara Anies sendiri yang notabene sebagai pejabat Gubernur, maka akan terasa tidak pas dan lebay hingga membuat saya harus tertawa terbahak-bahak sebab statement Saudara Anies tidak sesuai dengan realitas yang ada pada rumah kediaman Saudara Anies dan keluarganya yang terbuat dari dinding berbahan semen dan kayu jati berkualitas terbaik. Tidak ada tanda-tanda yang dapat terlihat kalau rumah tempat tinggal Saudara Anies dan keluarganya terbuat dari bahan bambu yang konon dia bangga-banggakan dalam statementnya.

Bersediakah Saudara Anies demi untuk merealisasikan statementnya sendiri agar tidak berkesan lebay dan membual dia membongkar dan merubah secara total dinding dan atap rumah kediamannya yang berbahan semen dan kayu jati berkualitas terbaik menjadi rumah kediaman berbahan bambu yang acap menjadi tempat tinggal rakyat kecil? Bersediakah Saudara Anies demi untuk merealisasikan statementnya sendiri agar tidak berkesan lebay dan membual dia mengganti kursi dan meja kerjanya dengan bahan dasar bambu yang oleh orang Jawa biasa disebut dengan sebutan lincak?

Perlu saya tegaskan kepada Saudara Anies bahwa warganet tidak mempersoakan bahan bambu yang biasa dipakai oleh rakyat kecil. Warganet hanya mempersoalkan bahan dari tiang bendera Negara Asian Games yang terbuat dari pecahan bambu berkualitas rendah dari perspektif etika an sich. Saya katakan bambu berkualitas rendah karena masih ada bambu yang berkualitas baik, sedemikian pula ada kayu berkualitas rendah, sedang dan baik. Jika memang dapat diupayakan bambu dengan kualitas terbaik, mengapa harus memakai bambu berkualitas terendah? Apa lagi tiang bendera ini menyangkut Indonesia sebagai tuan rumah yang tentunya kita sebagai tuan rumah berupaya semaksimal mungkin dapat memberikan yang terbaik untuk para tamu Negara Asian Games yang bertandang ke Indonesia. 

Ketika Saudara Anies hendak menerima silahturahmi dari tamu yang hadir ke rumah tempat kediamannya, apalagi kalau kehadiran tamunya sudah sesuai dengan undangan, tentunya tetap menaruh hormat kepada kehadiran sang tamu. Saudara Anies ketika hendak menerima silahturahmi dari tamu yang hadir tentunya memperhatikan etika berpakaian. Meskipun tidak ada larangan mengenakan celana kolor, tapi dari perspektif etika tentunya sang tuan rumah yang mengenakan celana kolor ketika menerima silahturahmi dari tamu yang hadir adalah tindakan tidak etis dan dapat menghilangkan selera dari sikap hormat sang tamu kepada tuan rumahnya. Ketika sang tuan rumah yang mengenakan celana kolor mendapat teguran dari anak-anaknya yang malu melihat sang ayah hanya mengenakan celana kolor untuk menjumpai para tamunya, lantas sang ayah memberikan statement alasan pembenar kepada anak-anaknya jika celana kolor adalah simbolik yang biasa dipakai oleh kebanyakan rakyat, oleh karena itu sah saja sang tuan rumah mengenakan celana kolor untuk menyambut para tamunya.

Tentunya Saudara Anies paham, betapa para petani yang merupakan simbol cerminan kaum marjinal di Indonesia jika menerima tamu dari tetangga atau siapa saja yang sedang bertandang untuk bersilahturahmi ke tempat kediamannya pasti tetap memperhatikan etika berpakaian. Kalau awalnya sang tuan rumah kebetulan mengenakan celana kolor, maka ketika ada kehadiran sang tamu ke rumah kediamannya maka sang tuan rumah akan mengganti celana kolornya dengan pakaian yang dianggap lebih menghormati sang tamu. Bahkan ketika saya bertandang untuk menjumpai kawan saya, Umbu landu Paranggi, maka beliau tetap berpakaian yang etis dan tidak pernah asal-asalan untuk menjumpai silahturahmi dari kawan-kawannya dengan mengenakan celana kolor.

Sekarang semua terserah dan dikembalikan kepada keinginan dari kebijakan Saudara Anies yang memangku amanat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta sebab saya yang dulu pernah menjadi kawan Saudara Anies ketika saya masih menjadi mahasiswa setidaknya hanya dapat memberikan saran terbaik kepada Saudara Anies. Jika misalnya Saudara Anies menolak ataupun sebaliknya Saudara Anies berlapang dada menerima saran dari saya dan warganet lainnya, maka sekali lagi semuanya saya kembalikan kepada Saudara Anies yang memiliki kewenangan kebijakan yang oleh Negara atas nama warga DKI Jakarta telah disumpah di atas Kitab Suci sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. 

Salam,
Joe Hoo Gi





Mau komentar? Klik di sini!



Comments