English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Ikuti  joehoogi.cf  di:

Ikuti blog saya  RSS  Facebook  Twitter  GooglePlus  LinkedIn  Instagram  Pinterest  Flickr  YouTube  Vidio  SoundCloud  ReverbNation  Vimeo  Tumblr  GoodReads 

Mengkritisi Sosok Ketokohan Amien Rais




Pesan Sang Binatang Jalang, Chairil Anwar dalam salah satu puisinya di tahun 1943 berjudul Diponegoro, ada kalimat yang tertulis di bait puisinya: "Sekali berarti, sudah itu mati". Pesan Chairil Anwar ini jika dikaitkan dengan sosok ketokohan Amien Rais tampaknya tidak akan pernah berlaku dan tidak akan berarti apa-apa untuk sosok ketokohan anak bangsa sendiri bernama Amien Rais. Padahal awal perjuangan menuju era Reformasi, Amien Rais menyandang julukan mulia sebagai Lokomotif Reformasi atau Bapak Reformasi yang sangat berarti. Tapi dengan bergulirnya waktu, sikapnya sebagai Bapak Reformasi yang sangat berarti itu justru semakin dikikisnya sendiri oleh sikap semangat ambisinya yang menjadi-jadi, bermanuver sebagai sosok Sengkuni sehingga cepat atau lambat justru akan mempermalukan dirinya sendiri yang membuat publik menjadi tidak simpati.

Saya sampai hari ini tidak pernah setuju dengan julukan Lokomotif Reformasi atau Bapak Reformasi yang disematkan untuk Amien Rais, kecuali hanya sebagai claim sepihak, sebab ada atau tidak adanya Amien Rais pada waktu tahun 1998, aksi menuju Reformasi Total tetap berjalan sesuai agenda, sebab aksi ini sepenuhnya hasil kerja dari perjuangan mahasiswa, bahkan agenda mahasiswa menuju Reformasi Total malah dimentahkan oleh Amien Rais dengan memberi waktu selama 6 bulan kepada Soeharto sebagai pimpinan Orde Baru untuk melakukan pembenahan.

Berbagai pernyataan kontroversialnya yang saling crash dan kontradiksi telah membuat masyarakat kehilangan aroma simpatiknya untuk meresponnya. Publik tidak lagi mau peduli mendengar apa-apa dari pernyataan yang disampaikannya sebab sudah menjadi tabiat Amien Rais jika hari ini dia meludah, maka boleh jadi besok ludahnya pasti akan dijilatnya kembali. Jika dia muntahkan janji maka yang bakal terjadi adalah bersiap-siaplah menerima kebohongan dari apa yang telah dijanjikannya.

Antara siapa yang menjadi sosok lawannya dan siapa yang menjadi sosok kawannya, tampaknya absurd dan sulit dibedah perbedaannya sebab konsep kepastiannya tiada lain adalah selera dari kepentingannya. Membangun Konsep kebersamaan versi sosok Amien Rais adalah upaya menyusun kekuatan perseteruan siapa bakal menjadi target korban selanjutnya.

Sikap Amien Rais ini telah mengingatkan saya kepada Mohammad Hatta dalam pesan tertulisnya: "Sikap bodoh manusia tentunya dapat diperbaiki melalui belajar dan mengurai pengalaman. Tapi sikap tak jujur sulit untuk diperbaiki." Jika pesan Mohammad Hatta ini dikaitkan dengan sikap dari sosok manusia bernama Amien Rais, maka akan berlaku untuk sikap Amien Rais yang manakah? Wallahu A'lam Bishawab.

Salam,
Joe Hoo Gi





Mau komentar? Klik di sini!



Comments