Ikuti  joehoogi.cf  di:

Boikot Produk Amrik, Mana Mungkin Bisa?

Wait Loading...

Demi membela Palestina, lantas ada wacana mau memboikot produk Amrik di Indonesia. Mendengar wacana ini saja terasa ndagel di telinga saya dan spontan mulut saya sontak berkata,"Mana mungkin?" Masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, termasuk mereka yang mau memboikot produk Amrik, seratus persen sudah menggantung kebutuhan primair hidupnya sehari-hari kepada produk Amrik, jadi sangat-sangat mustahil kalau ada penerapan wacana untuk memboikot produk Amrik di Indonesia. 

Bayangkan saja kalau sampai produk Amrik diboikot di Indonesia, maka berapa ratus ribu lembaga, kantor, departemen dan perusahaan milik Negara maupun Swasta yang mengalami stagnan masif yang signifikan hanya gara-gara harus menanggalkan semua sarana perangkat komputernya? Lho, apa hubungannya perangkat komputer dengan produk Amrik? Coba tengok yang namanya perangkat komputer bisa dipakai jika sudah dinstal software Operation System (OS) di dalamnya. Mayoritas masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan OS produk Amrik seperti DosPentium dan Windows. Sebagian ada yang mengandalkan OS Mac yang dikeluarkan oleh Apple yang notabene juga produk Amrik. 

Okei mungkin ada sebagian anak bangsa yang piawai menggunakan OS Linux,tapi pertanyaannya perangkat komputer itu tidak hanya mengandalkan OS saja, tapi motherboard, processor dan Random Access Memory (RAM) juga wajib menyertainya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Coba dilihat processor di perangkat komputer, wow lagi-lagi keluaran Intel dan Advanced Micro Device (AMD) yang notabene tetap saja produk Amrik. Coba lebih jeli lagi aplikasi yang tertanam di komputer kita, dari aplikasi Microsoft Office,CorelDRAW, Photoshop,Pinnacle,Ulead dan lain sebagainya nyaris kesemuanya softwares keluaran produk Amrik  Belum lagi pada sarana printer yang kita pakai sehar-hari. Biasanya kalau bukan merk Canon, pasti merk Epson, wadeuw tetap saja produk Amrik. Konklusinya jika benar mau memboikot produk Amrik berarti masyarakat Indonesia stop dari pemakaian komputer. Kalau sudah begini kembali ke era mesin ketik dong, tapi pertanyaannya apa mau kita yang sudah dimudahkan segalanya dengan komputer lantas kembali ke mesin ketik? Tapi pakai mesin ketik pun masih harus dipertanyakan kembali sebab kita masih harus memilah-milah lagi mana mesin ketik yang bukan produk Amrik dan mana yang produk Amrik.
  
Dari perihal komputer saja kita sudah dipusingkan hingga sampai muntah-muntah sebab kenyataannya produk Amrik telah mendominasi semua perangkat hardwares dan softwares pada komputer yang kita pakai. Sekarang lebih melebar lagi ke persoalan internet. Jika betul kita konsisten memboikot produk Amrik berarti stop internet sebagai kebutuhan hidup kita sehari-hari. Kita tak bisa lagi mengirim dan menerima email lagi, khususnya mereka yang sudah tergantung kepada Yahoo Mail,Gmail dan Outlook yang jelas-jelas produk Amrik. Bahkan boleh jadi jutaan Blog akan terhenti sebab dari Blogspot sampai Wordpress tetap saja produk Amrik. Kita tidak bisa lagi bertanya-tanya ke mesin pencari melalui Google,Yahoo dan Bing yang sudah jelas produk Amrik. Belum lagi browser sebagai penghubung ke mesin pencari pun pasti tak terlepas dari produk Amrik seperti Mozilla, Opera, Google Chrome, Tor dan masih banyak yang lainnya

Kalau memang betul kita konsisten mau memboikot produk Amrik, maka bersiap-siaplah mengalami kemunduran peradaban jadul era pos telekomunikasi yang mengandalkan surat menyurat dan perangko sebagai bukti pembayaaran pengirimannya. Tapi tampaknya mustahil kita akan mundur ke belakang sebab kemajuan dari komunikasi dan informasi tekhnologi telah memanjakan dan membentuk kepribadian kita sebagai kebutuhan primair yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial kita sehari-hari. Kita sudah sangat dimudahkan untuk berhubungan sosial tanpa melalui jarak dan waktu melalui sarana sosial media yang sudah tersedia di depan mata kita yang semuanya bisa terlaksana jika ada jaringan internet seperti Facebook, InstagramTwitter, Path, WhatsApp, Pinterest, Tumblr, lickr, Skype, BlackBerry Messenger (BBM)Line dan sebagainya yang nyaris semuanya produk Amrik. Bahkan kita bisa memilih tontonan video apa saja dan bahkan mengunduh dan mengunggah video sesuka hati melalui media YouTube yang notabene tetap saja produk Amrik. Tak hanya sampai di sini, di rumah sambil santai sembari tiduran kita bisa menghibur diri melalui live streaming karaoke duet mesra bersama di media Smule Sing, atau mau cuci mata melalui live streaming dan chatting mesra di media Bigo Live yang notabene tetap saja produk Amrik.

Sekali lagi berpikirlah untuk memboikot produk Amrik sebab kalau konsisten kita jalankan maka justru akan menjadi boomerang atau senjata makan tuan terhadap kita sendiri. Bayangkan sarana radio komunikasi handy talky yang dipakai wajib untuk bekal Tentara Nasiona Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Satpam, Satpol PP dan Tim Search and Rescue(SAR) nyaris semuanya merk produk Amrik seperti Motorola, Kenwood, Alinco, Icom dan sebagainya. Kalau sudah begini, apakah TNI, Polri, satpam, Satpol PP, dan tim SAR kita akan lambat dalam penanganan hanya gara-gara dipusingkan dengan merk handy talky apa yang bakal dipakai di luar produk Amrik. 

Memboikot produk Amrik sama saja membunuh jutaan anak bangsa sendiri yang bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik soft drink produk Amrik seperti Coca-ColaPepsi, FantaSprite dan sebagainya. Belum lagi ribuan buruh kita yang bekerja di Sunbucks, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken (KFC)Mc Donald, Dunkin DonutsJCO dan sebagainya apakah harus dikorbankan demi untuk memboikot produk Amrik? Ingat,betapa memboikot produk Amrik di Indonesia sama saja memboikot buruh kita sendiri. Tak hanya membunuh kehidupan para buruh kita sendiri, tapi juga membunuh jutaan anak bangsa sendiri yang sakit tanpa pengobatan hanya gara-gara semua obat dari hasil olah apoteker yang dikeluarkan oleh resep dokter suka tak suka harus suka tetap saja nyaris didominasi produk Amrik.

Ketika slogan boikot produk Amrik difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), saya menjadi pusing sendiri, sebab mana mungkin bisa diterapkan di Indonesia yang kehidupan rakyat dan aparatur Negaranya sudah menggantung sepenuhnya kepada produk Amrik? Jika fatwa ini dijalankan dengan penuh konsisten apakah tidak menjadi boomerang buat kita sendiri? Boleh jadi ketika maunya memboikot produk Amrik, tapi yang terjadi justru memboikot kehidupan kita sendiri. Bayangkan saja, dari dulu hingga sekarang, kotbah mimbar di dalam masjid dan kumandang azan dilakukan selama lima kali dalam satu hari selalu mengandalkan microphone dan loudspeaker merk TOA yang sudah sangat jelas produk Amrik. 

Ironisnya lagi, secara historis slogan semangat anti Amrik melalui boikot produk Amrik pernah terjadi di pemerintahan Sukarno. Satu-satunya kekuatan partai politik yang membawa semangat anti Amrik hanya dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh karena itu tidak heran jika Amrik dengan melalui segala cara dapat menjatuhkan pemerintahan Sukarno. Tampilnya Angkatan Darat oleh Suharto yang disupport sepenuhnya oleh Amrik pada akhirnya dapat merebut pemerintahan Sukarno dan menumpas sampai habis seakar-akarnya para pendukung Sukarno yang diindikasikan PKI melalui pasca tragedi 1965. Tak heran jika semangat anti Amrik oleh rezim Orde Baru dianggap sebagai slogannya PKI. Tapi kini jargon slogan anti Amrik -nya PKI malah disupport oleh kekuatan atas nama ummat Islam Indonesia yang notabene selalu menempatkan stigma PKI sebagai bahaya laten yang tiada pernah berakhir. 

Lihat anak-anak di sekitar kita dengan bangganya bermain mengenakan kostum seperti Ironman, Spiderman, BatmanSuperman, Tarzan, Captain America, Rambo, Terminator dan masih banyak nama tokoh fantasi Super Heroes yang kesemuanya produk Amrik. Film-film kartun yang digemari juga tak luput dari produk Amrik seperti Mickey Mouse, Popeye, Tom and JerryDora, Spongebob, Scooby Doo, Toy Story, Tin Tin, Ben Teen, Donald Duck, Ratatouille, Felix The Cat, Shaun The Sheep dan masih banyak yang lainnya yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu di sini.

Lantas apakah kita masih bersemangat untuk tetap memboikot produk Amrik? Coba tengok celana jean yang kita pakai siapa tahu merk Levis, Lee atau Lea? Coba tengok merk handphone kita, lantas tengok aplikasi yang tertanam di smartphone kita, siapa tahu kita mempunyai akun WhatsApp, Line, BBM, Facebook dan Twitter? Saya mempunyai teman dengan bangganya menunjukkan kepada saya kalau dia memiliki banyak aplikasi yang berthema Islam di smartphonenya, dan bahkan smartphonenya di luar produk Amrik. Kemudian saya bertanya bagaimana anda bisa mengunduh dan menginstal aplikasi tersebut? Tanpa disadari dia menjawab kalau semua aplikasinya dia unduh melalui Google Play. Saya hanya menjawabnya, dengan melalui Google Play yang sudah jelas produk Amrik maka membuktikan sekecil apapun disadari atau tidak kita tak bisa luput dari produk Amrik.  



Salam,
Joe Hoo Gi



Anda mau komentar? Klik di sini!



Baca Artikel Lainnya :

Wait Loading...
Wait Loading...

Comments