Ikuti  joehoogi.cf  di:

Sembilan Belas Lebih Tiga Menit

Wait Loading...


Sembilan belas lebih tiga menit,harapan tidak lagi menemaniku. Menyelinap pergi tanpa pamit dan tiada pernah kembali lagi. Meninggalkanku dalam kesendirian di ujung ketakutan yang paling sunyi. Kalau memang kehendak Tuhan adalah otoritas Takdir yang terjadwal maka apa yang bisa kuperbuat? Sementara airmata tampak terasa terkuras habis dan bertubi-tubi permohonan doa-doaku terbentur tebalnya tembok Takdir kecuali hanya pasrah dan kalah.
Dua puluh tiga tahun dia bertahan sebagai teman.Mengisi setiap ruang kehidupan.Merajut lelah perjalanan.Menelan setiap perbedaan menjadi cita rasa pengertian. Suka dan duka adalah permainan yang paling mengasyikkan.Jika cinta adalah lentera keabadian maka dibutuhkan ujian pembuktian. 

Selasa tiga puluh satu Januari,ketika siang dibalut mendung mendadak tanpa pertanda dan gejala dia mengalami kesulitan bernafas. Tubuh bermandikan keringat,sementara wajah semakin pucat pasi. Dia harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat IGD) di salah satu Rumah Sakit swasta di tengah pusat kota Jogjakarta. Tim medis IGD hanya menyebut dia mengalami heart failure dan harus dilakukan penyelamatan ke ruang Intensive Coronary Care Unit (ICCU). 

Celoteh bathinku tak pernah diam, ngeyel tersungkur memohon, Ya Allah, ya Rabbi, Sang Maha Pencipta Kehidupan, hamba terima ujian sebagai peringatan.Semoga badai yang menimpa hamba dapat cepat berlalu. 

Sembilan puluh enam jam lamanya dia masih terlelap dalam tidurnya, sementara suara berita di televisi yang tergantung di ruang tunggu masih saja kudengar berisik tentang kegaduhan para anak bangsa sendiri akibat perbedaan warna keyakinan tidak lagi sebagai  rahmatan lil'alamin. Hanya airmata nyaris terkuras habis yang bisa kuberikan. Hanya doa permohonan bertubi-tubi yang bisa kupanjatkan  dibalik tirai jendela kaca ICCU. 

Celoteh bathinku tak pernah diam,  ngeyel tersungkur memohon,Ya Allah, ya Rabbi,Sang Maha Pencipta Kehidupan,bangunkan dia dari tidur lelapnya sebab sudah sembilan puluh enam jam dia terlelap enggan menyapa hari.

Sabtu empat Pebruari,ketika senja telah dibalut malam,seorang perawat iccu memanggilku  mengabarkan kondisi terburuk dari pasien.  Konon langkah upaya medical dilakukan agar Takdir dapat segera ditunda. Kecemasanku bergolak di semua sudut ruangan tanpa daya apa yang harus aku perbuat,apalagi tidak kulihat satu pun dokter,kecuali hanya beberapa perawat.Apakah mungkin kebiasaan kesigapan molor dari kepedulian dokter di rumah sakit ini disebabkan oleh kondisi kehadiranku yang hanya mengandalkan  kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial?Wallahu a'lam bish-shawabiKepanikan terus menggerutu dalam jiwa.

Celoteh bathinku tak pernah diam, ngeyel tersungkur memohon,Ya Allah,ya Rabbi,Sang Maha Pencipta Kehidupan,apa yang bisa aku perbuat dalam keterbatasanku sebagai manusia kecuali hanya airmata terkuras habis dan bertubi-tubi permohonan doa-doaku tersungkur dalam kepasrahan? 

Sembilan belas lebih tiga menit,harapan tidak lagi menemaniku.  Menyelinap pergi tanpa pamit dan tiada pernah kembali lagi.  Meninggalkanku dalam kesendirian di ujung ketakutan yang paling sunyi. Kalau memang kehendak Tuhan adalah otoritas Takdir yang terjadwal maka apa yang bisa kuperbuat? Sementara airmata tampak terasa terkuras habis dan bertubi-tubi permohonan doa-doaku  terbentur tebalnya tembok Takdir kecuali hanya pasrah dan kalah.

Celoteh bathinku tak pernah diam,ngeyel tersungkur memohon,Ya Allah, ya Rabbi, Sang Maha Pencipta Kehidupan, meski TakdirMu sudah final tapi aku tetap menunggu jawabanMu dari permohonan doa-doaku kepadaMu agar Kamu memang pantas disebut sebagai Maha Pengasih dan Penyayang.




Salam,
Joe Hoo Gi



Anda mau komentar? Klik di sini!



Baca Artikel Lainnya :

Wait Loading...
Wait Loading...

Comments