Ikuti  joehoogi.cf  di:

Membedah Butiran Telur Dalam Keranjang

Wait Loading...



Membedah butiran telur 
dalam keranjang 
pasti ada satu, dua, tiga telur 
yang busuk dan retak. 
Dalam setiap sejarah revolusi, 
perlawanan kaum sipil di Indonesia 
meskipun dibungkus rapi 
dalam bingkai Demokrasi 
selalu saja ada konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka amuk berdarah 
anak bangsa 1965 
hingga diterbitkan 
Surat Sebelas Maret 
sebagai alat legitimasi prahara 
yang menelan 89 juta lebih 
nyawa anak bangsa 
sampai jatuhnya Sukarno 
dari kursi Presiden, 
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka huru-hara berdarah 
15 Januari 1974 
hingga diberhentikannya 
Jenderal Sumitro 
sebagai Panglima Komando 
Pemulihan Keamanan dan Ketertiban 
sampai dicopotnya 
Letjend Soetopo Juwono 
sebagai Kepala Badan Koordinasi 
Intelijen Negara, 
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka muntahnya 
peluru misterius berdarah 1982 
yang mengekekusi mati 
para bromocorah bertato 
tanpa melibatkan proses peradilan, 
konon menurut tinta 
sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka aksi 
Tanjung Priok berdarah 1984 
hingga pengeboman 
candi Borobudur dan BCA 1985 
sampai diadilinya 
Letjend Harsono Rekso Dharsono 
yang kesemuanya rentetan aksi 
peristiwa penolakan 
Asas Tunggal Pancasila, 
konon menurut tinta 
sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka pembunuhan aktivis 
seorang buruh bernama Marsinah, 
seorang wartawan bernama Udin, 
seorang penggiat HAM bernama Munir, 
konon menurut tinta 
sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka huru-hara berdarah 
27 Juli 1996, 
tragedi penculikan para aktivis 1997 
hingga huru-hara berdarah 1998 
sampai mundurnya Suharto 
dari kursi presiden, 
konon menurut tinta 
sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka tidak dipatuhinya 
Dekrit Presiden 
hingga terusirnya Gus Dur 
dari Istana Negara, 
konon menurut tinta 
sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Lantas aksi 4 November 2016 
sampai aksi 2 Desember 2016, 
apakah murni aksi bela Islam 
oleh kaum sipil ulama? 
Ataukah diam-diam ada konspirasi 
skenario peranan sistematis massif 
elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta 
terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya? 
Wallahua'lam bish-shawabi. 
Saya akan menunggu sejarah 
untuk menoreh catatannya kembali. 

Salam,
Joe Hoo Gi



Anda mau komentar? Klik di sini!



Baca Artikel Lainnya :

Wait Loading...
Wait Loading...

Comments