English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Ikuti  joehoogi.cf  di:

Ikuti blog saya  RSS  Facebook  Twitter  GooglePlus  LinkedIn  Instagram  Pinterest  Flickr  YouTube  Vidio  SoundCloud  ReverbNation  Vimeo  Tumblr  GoodReads 

Membedah Cara berpikir Anti Multikultural Yusril Ihza Mahendra




Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH.MSc konon disebut pakar Hukum Tata Negara, bergelar sebagai Datuk Maharajo Palinduang punya pernyataan sikap berpikir anti multikultural yang telah disampaikan pada acara Seminar Nasional di Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada hari Kamis tanggal 20 November 2015,  Pemimpin harus orang Islam. Mereka non muslim yang tinggal di bumi Pertiwi ini tidak pernah ikut berjuang melawan penjajah. Untuk itu non muslim tidak boleh menjadi Presiden bahkan tidak boleh punya Hak Milik atas Tanah Indonesia.

Jika kita mengikuti jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Yusril Ihza Mahendra maka Indonesia yang multikultural tidak patut dibangun candi dan vihara mengingat bangunan ritual bersejarah:  Candi Pringapus di Temanggung, Candi Gedong Songo di Ambarawa, Candi Sukuh di Karanganyar, Candi Cangkuang di Garut,  Candi Prambanan di Sleman, Candi Borobudur dan Mendut di Magelang, vihara Kwan Sing Bio di Tuban, vihara Tay Kak Sie di Semarang, vihara Soei Goeat Kiang di Palembangvihara Xian Ma di Makassar, vihara Hok Tek Hian di Surabayavihara Cu An Kiong di Lasemvihara Surga Neraka di  Singkawang adalah bangunan ritual bersejarah milik penganut keyakinan non muslim.

Jika kita mengikuti jejak cara pandang berpikianti multikultural  Yusril Ihza Mahendra maka bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya tidak akan mungkin menjadi penerapan  mengingat para tokoh pejuangPatih Gajah Mada, Christina Martha Tiahahu,Untung SurapatiKolonel Gusti Ngurah Rai,I Gusti Ketut JelantikMGR.Albertus Soegijapranata,SJThomas Matulessy alias PattimuraLaksamana Muda John Lie Tjeng TjoanLaksamana Madya Yosaphat SoedarsoRobert Wolter MonginsidiLetnan Jenderal Tahi Bonar SimantupangLambertus Nicodemus Palar,Frans Kaisiepo,Marthen Indey,Dr.Johannnes Leimena,Mayor Johannes Abraham Dimara,Silas PapareDr.Gerungan Saul Samuel Jacob RatulangiMarsekal Muda Agustinus Adisutjipto, Wage Rudolf Soepratman,Prof.Dr.Ir.Herman Johannes,Mayor Jenderal Donald Isaac Panjaitan,Kapten Pierre Andreas Tendean,Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi adalah para anak bangsa Indonesia yang menganut keyakinan non muslim.

Jika kita mengikuti jejak cara pandang berpikianti multikultural Yusril Ihza Mahendra maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak pantas dijadikan sebagai semboyan Negara sebab kosa kata Bhinneka Tunggal Ika mencuplik dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular sang pujangga ternama yang non muslim yang hidup pada abad 14 ketika kerajaan Majapahit diperintah oleh raja Hayam Wuruk yang non muslim sehingga tujuan dari semboyannya akan memberi ruang toleransi kepada para anak bangsa Indonesia 
yang non muslim.

Jika kita mengikuti jejak cara pandang berpikianti multikultural Yusril Ihza Mahendra maka lagu Indonesia Raya tidak pantas dijadikan sebagai lagu wajib Nasional sebab lagu Indonesia Raya yang konon dipublikasikan pertamakali oleh koran Sin Po yang non muslim merupakan lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman sang komponis yang non muslim.

Jika kita mengikuti jejak cara pandang berpikianti multikultural  Yusril Ihza Mahendra maka Undang-Undang Dasar 1945 tidak pantas dijadikan konstitusi negara sebab di BPUPKI yang merumuskan  UUD 1945 terdapat para tokoh non muslim seperti: Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw dan Yap Tjwan Bing.


Salam,
Joe Hoo Gi 





Mau komentar? Klik di sini!



Comments