Tampilkan postingan dengan label Idea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idea. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

MENGEMBALIKAN JAKARTA SEBAGAI KOTA HARAPAN KAUM URBAN


Ketika program Kepala Daerah DKI Jakarta
dari era Ali Sadikin sampai Ahok 
berupaya menghalau urbanisasi 
agar fenomenal kemiskinan 
tidak melahirkan gelandangan 
dan angka kriminalitas naik.



Kamis, 25 Januari 2018

INFERIOR LGBT VERSUS SUPERIOR HETEROSEKS

Perihal LGBT (Lesbian-Gay-Biseksual-Transgender) yang akhir-akhir ini mulai memanas kembali, saya sudah kupas-tuntas secara detail pada tulisan saya. Tulisan saya yang pertama yang saya posting pada tanggal 18 Februari 2016 berjudul Solusi Agar LGBT Bisa Diterima Oleh Semua Pihak (Studi Kasus Dorce Gamalama). Bagi yang belum membacanya dapat diklik di siniTulisan saya yang kedua yang saya posting tanggal 27 Februari 2016 berjudul Syaiful Jamil, LGBT dan Kambing Hitam. Bagi yang belum membacanya dapat diklik di sini. 



Minggu, 21 Januari 2018

RULE OF LAW KOK DISEBUT KRIMINALISASI, KEPIYE TOH?

Equality before the law 
adalah prinsip negara hukum
agar Hukum dapat berkeadilan 
bahwa di depan hukum negara
semua anak bangsa 
tanpa terkecuali 
adalah sama. 

Equality before the law 
tak mengenal siapakah anda 
seberapa pentingkah anda? 
Equality before the law 
hanya mengenal peristiwa 
adakah perbuatan anda 
yang melawan hukum?

Equality before the law 

adalah fiat justitia ruat caelum 
tegakkan hukum walau langit runtuh 
makanya equality before the law 
tidak takut pada segala ancaman 
meski resiko yang harus dibayar 
negara harus terancam chaos.

(15 September 2017)

Sebut saja namanya Si Fulan, bukan nama sesungguhnya, kebetulan seorang aktivis mahasiswa, kemudian oleh polisi ditangkap  karena diduga melakukan tindak pidana pencurian sepeda motor sebagaimana diatur dalam Pasal 363 KUHP. Penangkapan oleh polisi kepada Si Fulan yang seorang aktivis mahasiswa yang diduga melakukan tindak pidana pencurian sepeda motor apakah dapat disebut sebagai upaya kriminalisasi kepada aktivis? Jika stigma ini yang terjadi, maka sebaiknya stigma ini dibalas dengan jangan mengaktiviskan pelaku kriminal yang kebetulan oknum aktivis mahasiswa.


Senin, 18 Desember 2017

BOIKOT PRODUK AMRIK, MANA MUNGKIN BISA?

Demi membela Palestina, lantas ada wacana mau memboikot produk Amrik di Indonesia. Mendengar wacana ini saja terasa ndagel di telinga saya dan spontan mulut saya sontak berkata,"Mana mungkin?" Masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, termasuk mereka yang mau memboikot produk Amrik, seratus persen sudah menggantung kebutuhan primair hidupnya sehari-hari kepada produk Amrik, jadi sangat-sangat mustahil kalau ada penerapan wacana untuk memboikot produk Amrik di Indonesia. 


Jumat, 03 November 2017

CATATAN UNTUK MENKOMINFO PERIHAL REGISTRASI WAJIB NOMOR PRABAYAR

Masih ingat kasus Antasari perihal SMS ancamannya yang dijadikan salah satu barang bukti di Pengadilan? Kalau saja hakim memiliki penguasaan atau minimal paham IT maka tuduhan jaksa tentunya tidak sepenuhnya benar. Sebab sudah bukan menjadi kendala dan rahasia umum lagi betapa siapa saja yang dapat menguasai pembedahan program IT di PC, maka dapat mengirim SMS kepada siapa pun yang dikehendaki dengan nomor handphone anda padahal anda tidak pernah mengirimnya.


Jumat, 27 Oktober 2017

CATATAN UNTUK ANIES RASYID BASWEDAN

Saya ingat guru SD di Semarang, berkata kepada kami sekelas, “Nek ngawur ojo kegeden, medeni.” Artinya, “Kalau ngawur jangan terlalu besar, mengerikan.” Sekonyong saya menyaksikan ngawur dilakukan oleh Pak Gubernur Baru, Profesor Anies Baswedan. Ini bukan soal pidatonya di hari pelantikkannya yang menyebut kata pribumi, dan serta merta menghebohkan karena dianggap mengandung siratan rasisme; melainkan apologianya atas kata itu. Begini katanya, “Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan Belanda di Indonesia. Sebab penjajahan itu terjadi di ibukota. Yang lihat Belanda dari jarak dekat siapa? Jakarta! Coba kita di pelosok-pelosok, itu tahu ada Belanda, tapi lihat depan mata, enggak. Yang lihat depan mata itu kita yang di kota Jakarta.”


Rabu, 06 September 2017

IMAJINER BERSAMA AUNG SAN SUU KYI


Joe Hoo Gi:

Dulu saya salah satu dari sekian juta pengagum Bunda ketika Bunda hadir sebagai social activist National League for Democracy (NLD)Masih selalu teringat dalam pikiran saya, betapa selama 15 tahun dalam pengasingan tahanan rumah, Bunda masih dapat memobilisasi massa dan menggelorakan semangat perjuangan pantang menyerah demi Pembebasan tegaknya Demokrasi dari kekuasaan rezim junta militer MyanmarSupport semangat Bunda kepada sistem demokrasi sikap perlawanan Bunda kepada rezim junta militer inilah yang telah banyak memberikan aspirasi perjuangan kami para aktivis Indonesia saat itu untuk dapat terbebas dari rezim militer Orde Baru. Perlu Bunda ketahui saja betapa sebagian dari buku yang Bunda tulis, salah satunya berjudul: The Voice of Hope: Conversations with Alan Clements yang terbit di tahun 2008 telah melengkapi kesempurnaan Bunda sebagai icon heroisme pembebasan terhadap rakyat tertindas oleh sistemik rezim otoriter. Tapi dengan perkembangan waktu setelah Myanmar mengalami proses transisi reformasi, terlebih setelah Bunda duduk di kabinet pemerintahan sebagai Konselor Negara, belakangan yang saya dengar, lihat dan baca dari berita kalau Bunda tidak dapat merawat kemanusiaan dan kebhinnekaan. Bunda telah melakukan pembiaran terhadap penindasan pada kaum sipil Rohingya.

Minggu, 03 September 2017

MENGKRITISI ROHINGYA SECARA CERDAS

Mari kita lebih cerdas, adil, netral dan proporsional dalam membahas akurasi yang berkaitan dengan insiden krisis kemanusiaan yang menimpa kaum sipil muslim Rohingya di Negara Myanmar. Memang sudah selayaknya kita support kepedulian aksi kemanusiaan kita kepada kaum sipil muslim Rohingya yang menjadi korban konflik separatis antara milisi Rohingya versus Rezim Myanmar. Tapi apakah kita sudah mencoba menggali akar persoalan krusial yang menjadi biang kerok dari insiden krisis kemanusiaan yang menimpa para korban kaum sipil muslim Rohingya?



Kamis, 31 Agustus 2017

SIAPAPUN SULTANNYA JOGJAKARTA TETAP ISTIMEWA

Betapa sejak tahun 2011 pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden perihal keistimewaan Jogjakarta yang diangapnya sebagai sistem monarki yang bertabrakan dengan sistem demokrasi dan Konstitusi Negara sehingga menjadi polemik bumerang kegaduhan di tengah masyarakat merupakan awal tumbuhnya sikap kecemasan saya menyangkut masa depan Jogjakarta.



Minggu, 20 Agustus 2017

MENOLAK LUPA KEPADA MALINGSIAL


Masih ingat dalam pikiran saya ketika Malingsial (istilah plesetan untuk kuosa kata Malaysia yang telah melakukan pencurian atau klaim sepihak terhadap hasil karya kesenian dan kebudayaan Bangsa Indonesia) menginjak-injak harga diri sebuah Bangsa bernama Indonesia yang dimulai pada tahun-tahun sebelum 2009. Segala hasil kesenian dan kebudayaan para anak bangsa Indonesia mendadak secara sepihak diklaim oleh Malingsial sebagai hasil karya kesenian dan kebudayaannya. Dari mulai kerajinan Batik, kesenian Reog khas Ponorogo, kesenian wayang kulit, lagu daerah Rasa Sayange dari Maluku, tari Pendet dari Bali, tari Tortor dan alat musik Gordang Sambilan dari suku Mandailing Sumatera Utara, alat musik Angklung dan masih banyak yang lain. Bahkan masakan khas Padang seperti Rendang dan minuman Cendol pun diklaim sebagai hasil karya anak bangsa Malingsial.



Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *