xmlns:b='http://www.google.com/2005/gml/b' xmlns:data='http://www.google.com/2005/gml/data' xmlns:expr='http://www.google.com/2005/gml/expr'>

Senin, 04 Juni 2018

Apakah Kita Akan Menjemput Kiamat Bersama?

Janganlah membangunkan macan yang tertidur lelap. Pasalnya jika membangunkan macan yang sedang tidur, maka macan yang bangun dari tidurnya akan bereaksi dengan agresif. Macan yang saya maksud di sini tiada lain adalah ormas Islam tertua dan terbesar kita bernama Nahdatul Ulama (NU). Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa NU adalah ormas Islam tertua dan terbesar di antara semua ormas Islam yang ada di Indonesia. Sejarah banyak menulis peranan perjuangan NU dalam membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial kepada umat Islam di Indonesia, terutama peranan dakwahnya yang lebih memperhatikan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat ukhuwah dalam perbedaan.  



Semangat ukhuwah dalam perbedaan di atas segalanya inilah yang menjadi pangkal jembatan mengapa Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat diterima oleh umat Islam tanpa menemui kendala-kendala kebuntuan yang berarti.  Hasil kesepakatan yang melibatkan atas nama umat Islam di Indonesia kepada kehadiran Pancasila sebagai dasar Negara sudah dinyatakan selesai dan berakhir sejak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pada tanggal 18 Agustus 1945.

Sejak runtuhnya rezim otoriter Orde Baru, kran demokratisasi yang ditandai dengan kebebasan menyatakan pendapat, berkumpul dan berserikat telah dibuka secara unlimited sebagai pertanda Indonesia memasuki era Reformasi. Resiko dibukanya kran demokratisasi secara unlimited ini telah menunjukkan kepada kita betapa semakin semaraknya paham-paham ideologis yang hadir bermunculan ke tengah kelompok-kelompok masyarakat kita tanpa ada kekuatan dari Negara yang mampu membendung dan menyeleksi apakah kehadiran paham-paham ideologis tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila ataukah sebaliknya. 

Banjirnya kelompok-kelompok radikalisme ke tengah khayalak umat, saya rasakan memang ironis, di satu sisi selalu mengatasnamakan Islam tapi di sisi lain tidak pernah mencerminkankan sebagai Islam yang rahmatan lil'alamin. Realitas yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat yang multikultural selama 20 tahun usia Reformasi tiada lain adalah tiada pernah berakhirnya rasa ketakutan, kebencian, kekerasan, teror, persekusi dan vandalis terhadap setiap perbedaan di tengah selera dan warna masyarakat.

Kelompok-kelompok radikalisme yang mengatasnamakan Islam ini terus berkembang biak untuk  menanamkan doktrinasi misi dan visinya ke tengah khayalak dengan harapan dapat diajak menjadi kader-kader pengikutnya. Mereka yang awal kader pengikutnya kecil tapi oleh karena dalam permbiaran Negara maka yang terjadi kader pengikut yang berjumlah kecil lambat-laun menggurita menjadi besar. Betapa selama masa Reformasi, para pejabat tinggi Negara dari berbagai institusinya telah asyik disibukkan dengan kepentingan konstelasi politiknya masing-masing, sehingga saking asyiknya semakin lupa apa yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok radikalisme ke tengah khayalak para kader pengikutnya.

Sudah tidak terasa 20 tahun usia Reformasi. Dalam 20 tahun ini ternyata kita sudah mengalami pergantian Presiden sebanyak 5 kali, dari BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY dan terakhir Jokowi. Tapi selama 5 kali pergantian Presiden, problema kebangsaan yang dialami langsung oleh Negara dan Bangsa tiada lain semakin menggerusnya nilai Persatuan Indonesia dalam Pancasila yang ditandai dengan aksi-aksi intoleransi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikalisme yang selalu mengatasnamakan Islam terhadap para anak bangsanya sendiri yang multikultural.

Sekarang setelah banyaknya keterlibatan anak bangsa sendiri dalam jaringan sel-sel terorisme, maka barulah Negara dan terlebih-lebih NU sebagai ormas Islam tertua dan terbesar di Indonesia mulai bersigap diri tidak lagi melakukan pembiaran. Boleh jadi selama dalam euforia Reformasi, saya menganggapnya Negara telah kecolongan, terbukti Negara telah melakukan pembiaran hingga tidak terasa kelompok-kelompok radikalisme yang membawa-bawa nama Islam selama ini merasa paling benar sendiri dan merasa di atas angin. Kondisi ini dapat dilihat ketika Negara membubarkan ormas Hizbut Tahir Indonesia (HTI) yang mengusung sistem Khilafah Islamiyah untuk mengganti sistem Pancasila sebagai Dasar Negara, maka yang terjadi mereka terus melakukan perlawanan dan menanamkan image di tengah para pendukungnya seolah-olah Negara melakukan kriminalisasi kepada ulama. Padahal kalau saja mereka mau intropeksi bahwa organisasi Hizbut Tahir sebelumnya sudah mendapat penolakan di seluruh Negara Islam di dunia tanpa terkecuali. Boleh dikatakan Indonesia telat membubarkannya.  

Menumpas tindak pidana terorisme sebagai kejahatan kemanusiaan, tiada lain harus dimulai dari menumpas akar-akar sebagai embrionya yang selama ini menempatkan Islam bukan sebagai Rahmatan Lil'Alamin. Jangan biarkan kondisi ini terus berlarut-larut sebab jika terus dalam pembiaran maka sama saja membangunkan macan yang sedang tidur. Kemarahan paling terutama adalah dari pihak NU sebagai ormas dan saudara muslim tertua dan terbesar di Indonesia yang dengan susah payah dan berdarah-darah telah berjuang menyatukan umat muslim Indonesia hingga mengantarkan sampai pada kemerdekaan Indonesia hingga sampai pada kelanjutannya. 

NU melalui Ketua Umum GP Ansor, KH Yaqut Cholil Quomas yang acap dipanggil Gus Yaqut, putera dari KH Muhammad Cholil Bisri, dalam pidatonya di depan ribuan kader Barisan Ansor Serbaguna NU (Banser) telah menyampaikan,"Mari kita tantang mereka untuk menjemput kiamat bersama-sama." Apakah kita akan turut menjemput kiamat bersama-sama? Tentunya jawaban ada di hati kalian masing-masing sebab untuk menjemput kiamat bersama-sama tidak akan pernah terjadi kalau sebagai anak bangsa saling menyadari betapa tatanan negeri ini sudah dicapai dengan susah payah dan berdarah-darah melalui kesepakatan bersama yang sudah selesai dan berakhir, sementara kita generasi yang lahir pasca Indonesia merdeka hanyalah menerima warisan untuk turut merawatnya bersama.


Salam,
Joe Hoo Gi

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *