Jangan Jauhkan Puisi Dari Sukmanya



Kalau saja sampai ada sebuah ekspresi bernama puisi diintimidasi, dipersekusi, diintrograsi atau dipolisikan dan bahkan sampai diadili maka saya lah orang pertama menolak kesewenang-wenangan itu sebab puisi harus dilawan dengan puisi, suka tidak suka adalah selera. Puisi tumbuh dari ekspresi. Puisi bukan tumbuh dari pesanan, dia bisa bebas berbicara apa saja.

Betapa jahatnya tirani jika puisi tertindas oleh tekanan. Pada puisi ada pesan hati merangkai persoalan di medan pikiran paling dalam. Menindas ekspresi bernama puisi sama saja menganiaya Tuhan sebab hanya kepada puisi aku bisa berbeda pendapat dan berdebat kepada Tuhannya. 

Hanya melalui rangkaian puisi, manusia dapat dengan leluasa berdialog dengan dirinya sendiri, kepada alam dan Sang Penciptanya, kepada entah berantah apa dan siapa. Biarkan kehendak bebas puisi mengalir sesuai ritme bahasa yang dikelolanya. Atau meminjam istilah pengertian dari Sutardji Calzoum Bachri, biarkan kata-kata yang ada dalam puisi dapat terbebas dari kungkungan pengertian seperti dalam mantra. Maknailah penghayatan puisi dengan apresiasi, interpretasi dan intropeksi. Hindari sejauh mungkin menghayati pesan-pesan puisi melalui intimidasi, persekusi dan intrograsi.

Sementara ada pendapat yang beredar ke tengah publik bahwa dikasuskan puisinya Sukmawati hanya sebagai aksi balas dendam karena sebelumnya Sukmawati pernah mengkasuskan pidato Habib Rizieq Shihab yang dianggap melakukan penghinaan kepada Pancasila. Kalau sudah begini, saya hanya bisa berkata, "Wallahua'lam bish-shawabi."


Salam,
Joe Hoo Gi