xmlns:b='http://www.google.com/2005/gml/b' xmlns:data='http://www.google.com/2005/gml/data' xmlns:expr='http://www.google.com/2005/gml/expr'>

Minggu, 25 Februari 2018

Hak PK Kok Tidak Boleh, Izinkan Saya Tertawa

Izinkan saya tertawa sembari tangan kananku menepuk-nepuk jidat dan tangan kiriku memegang perut agar imbas terpingkalnya tak sampai menohok ke perut. Terus terang saja baru pertama kali ini kuhadapi para badut terkocak di seantero dagelan dari kebudayaan manusia sepanjang masa.


Saya sangat-sangat percaya jika hanya lima ribu massa ingin kalian kerahkan. Konon tujuh juta massa saja pernah kalian kerahkan untuk mengepung Jakarta tapi terkocak-kocaknya lagi mengapa pengerahan massa tak pernah kalian lakukan kepada buronan Negara yang notabene pemimpin kalian yang super pengecut tak berani menghadapi proses hukum?

Tiada kemaluankah wahai kalian para badut? Dia saja yang satu orang berani menghadapi proses hukum. Tiada pernah gentar dengan pressure massa berjumlah tujuh juta. Pantang menjadi pengecut lari ke luar negeri segala. Sementara pemimpin kalian konon didukung tujuh juta massa gentar menghadapi proses hukum malah berlagak pengecut kabur ke luar negeri segala.

Super mbanyol tiada tara wahai kalian para pembadut. Demi karena entah berantah apa hingga kalian bernafsu menghalang-halangi haknya
sebagai warga negara yang dijamin konstitusi untuk menempuh upaya hukum Peninjauan Kembali? Mengapa kalian tidak intropeksi? Bukankah hal serupa kalian lakukan meminta polisi menerbitkan SP3 membebaskan pemimpin kalian dari perkara hukum?

Tiada kemaluankah wahai kalian para badut? Dia dan pemimpin kalian sama-sama sebagai Warga Negara Indonesia ketika dia mengajukan PK kalian marah-marah pemarah tapi ketika pemimpin kalian mengajukan SP3 kalian menjadi ramah-ramah peramah. Ini sama saja ketika dia meludah kalian sewot marah-marah sementara pemimpin kalian meludah kesana kemari kalian diam bak macan ompong.

Salam,
Joe Hoo Gi

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *