xmlns:b='http://www.google.com/2005/gml/b' xmlns:data='http://www.google.com/2005/gml/data' xmlns:expr='http://www.google.com/2005/gml/expr'>

Minggu, 19 November 2017

Kalau Mau Jujur Saja

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini suka dengan kegaduhan. Apa saja harus dipergaduhan. Jika tak bisa dipergaduhkan akan dicari-cari seribu satu cara. Kalau perlu tambahkan penyedap rasa. Jika kurang hangat akan digoreng kembali terpenting kegaduhan wajib andil.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini tak ingin sebuah perkara ada solusi. Kalau perlu perkara akan diperanak- pinakan menjadi perkara-perkara baru sehingga sulit diredam kembali. Kalau perlu yang sudah retak diprovokasi agar semakin hancur. Persetan dengan musyawarah.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini tak mau terjadi kelaparan tapi ketika para anak bangsa terpenuhi hak kebutuhan pangan malah diplintir menjadi kurang papan. Sebab dalam pemelintiran akan berbuah menjadi buah kegaduhan. Kalau sudah gaduh baru bisa asyik.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini hanya ada satu agenda acara. Bagaimana masa depan negeri ini bisa menjadi pasar malam. Ada perppu tak ada perppu tetap saja wajah agama diagitasikan. Ada penista tak ada penista tetap saja kebencian harus ditebarkan. Sebab dalam kebencian ada kegaduhan.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini hanya suka kegaduhan berjilid-jilid. Jika tak bisa gaduh hari ini maka berharap besok pagi kegaduhan menjadi panglima. Kalau perlu pendarahan ibu pertiwi mengalami koma di ICCU lantas terkapar menjadi bangkai.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini tidak butuh harga cabe turun sebab ketika harga cabe anjlok tetap saja kegaduhan berganti thema, meski sang penista masuk penjara tetap saja kegaduhan beralih issue. Siapapun presidennya pasti diperhujat sebab dalam hujat ada kegaduhan.

Kalau mau jujur saja sebagian masyarakat di negeri ini telah membuat mata hati Tuhan menjadi terasa capek sekali sehingga membuat kecemasanku harus mengakhiri tulisanku ini sembari menunggu hujan lekas reda sambil menuangkan kopi kembali agar wajah Tuhan ada cahaya.

Salam,
Joe Hoo Gi

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *