Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Sabtu, 14 November 2015

Redupnya Lentera Ketika Harus Menolak Pembohongan Sejarah


Hanya gara-gara menyajikan artikel headline berjudul Salatiga Kota Merah yang isinya menolak pembohongan sejarah versi Orde Baru yang mengungkap berita di seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965, maka majalah internal kampus Lentera, yang diterbitkan Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, justru berakhir dengan pembredelan yang dilakukan oleh Rektor UKSW atas desakan Polres Salatiga. 


Seluruh majalah Lentera edisi Nomor 3/2015 yang sudah dicetak sebanyak 500 eksemplar dan telah didistribusikan diminta untuk ditarik dan diserahkan kepada pihak yang berwajib, dalam hal ini Polres Salatiga.


Banyak pihak yang menuangkan protes dan meminta kejelasan atas aksi pembredelan ini. Dewan Pers melalui suratnya yang ditandatangani oleh Bagir Manan memperingatkan bahwa pembredelan produk jurnalistik merupakan tindakan pidana yang melanggar Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers: "Setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan seperti penyensoran, pemberedelan atau pelarangan penyiaran (sesuai ketentuan Pasal 4 Ayat (2)) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah)."


Salam,
Joe Hoo Gi





Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *