Ziarah Mengenang Andi Munajat


Jangan tanyakan nama Andi Munajat kepada para mahasiswa angkatan 1980-an Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada sebab sudah pasti mereka akan mengenalnya. Tapi tanyakan juga nama Andi Munajat kepada kawan-kawan yang pernah bergelut sebagai aktivis mahasiswa di tahun-tahun 1990-an, tidak perduli apakah mereka bergelut sebagai aktivis diskusi, pers dan demonstran, atau sekaligus merangkap ketiganya, pasti mereka juga akan mengenal sosok seorang aktivis bernama Andi Munajat.

Di balik mata dan pikiranku, Andi Munajat adalah seorang kawan yang bersosok kulit coklat gelap, mata merah sayu, lusuh dan kumuh yang terkesan jarang mandi, rambut lurus berminyak, gondrong tapi terkesan tanggung, rambut seperti tidak  pernah disisir, bibirnya yang hitam gosong akibat sisa lengket nikotin yang putus sambung tiada henti-hentinya sambil terus memuntahkan murah senyumnya jika matanya dilihat oleh kawan yang melihatnya. Konon meski sebagai perokok mania tapi selera Andi bukan mulut asbak, dia hanya paling demen rokok Djarum Filter, tidak doyan yang lainnya. Pernah di pagi menjelang nyaris subuh, Andi harus berjalan kaki menyusuri warung rokok yang menjual Djarum Filter hingga sejauh lima kilometer tetap dilakoninya. Andi yang kukenal tidak pernah meminta rokok kecuali rokoknya acap laris diminta kawan-kawannya.

Andi Munajat, nama itu terus melekat di setiap hati kawan-kawannya, khususnya kawan yang merindukan teman berdiskusi. Hanya Andi yang enak diajak bicara berdiskusi tanpa jarak waktu bagai pagelaran wayang kulit semalam suntuk tetap diladeninya, asalkan ada kopi yang terus bisa diseruput dan kebutuhan rokoknya tetap terjaga maka Andi siap diajak untuk mengembara ke langit-langit wacana berpikir hingga sampai ke pemikiran kritispun dia siap meladeninya dari pemikiran Socrates sampai Tan Malaka, dari Plato, Marx sampai Muhammad pun siap dikupas tuntas. Ide-idenya bagaikan sebuah taman flora dan fauna yang menyajikan aneka kebak tumbuhan dari bunga Mawar sampai pohon Pace sekalipun hingga terus meranah sampai ke semak belukarnya yang menawarkan aneka kebak hewan dari beruang panda sampai serangga kecoak hingga merambat sampai ke kutu rambut sekalipun turut terkupasnya.

Tapi belakangan sejak Andi berada di Kecamatan Jetis jalan Cokrodiningratan Jogjakarta, teman debatnya hanya dispesialisasikan buat Nasruddinsyah alias Iphun yang patut mendapat gelar simpatiknya sebagai mbahnya tukang diskusi. Masih kuingat dua puluh dua tahun silam ketika kami terciduk di halaman Pengadilan Negeri di jalan Kapas, Jogjakarta ketika sedang berlangsung vonis terdakwa subversib Bonar Tigor Naipospos, kami ditahan dalam satu sel di markas  Brimob Jogjakarta. Sel yang sengaja tidak dikunci dari luar dalam kondisi yang serba hati-hati Andi masih sempat mengisi waktu dengan diskusi kecil-kecilan sambil memegang kulit leherku bekas sundutan rokok petugas Brimob yang mengintrograsiku, dia memberikan pertanyaan yang saat itu tidak aku gubris karena kondisiku yang serba panik dan kesehatanku yang mulai droop, dia malah memberikan ujaran pertanyaan, "Gie, apakah pendidikan yang kita dapatkan selama ini membawa pembebasan bagi manusia?

Sejak insiden itu aku kehilangan kontak dengannya. Belakangan kuketahui dia bersama kawan-kawan lainnya sibuk merintis aksi perlawanan melalui pengorganisasiannya di SMID sampai PRD tapi sampai akhir kekuasaan rezim Soeharto dia malah menghilang entah kemana. Konon belakangan Andi sengaja mengasingkan diri dari hiruk pikuk untuk menghindari bagi-bagi kue roti kekuasaan. Andi memilih berdiam diri di desa terpencil di propinsi Kalimantan Selatan.

Andi Munajat, sekali lagi nama itu terus saja melekat ketika buah keadilan masih jauh dari pohonnya, bayangan Andi hanya hadir mengisi malam-malamku. Salam buat Diva, kawan!


Salam,
Joe Hoo Gi